Langsung ke konten utama

ORANG TUA HARUS TAHU... INILAH 7 Cara Mengatasi Anak yang Tidak Mau Mendengarkan Orang Tua


Berbicara kepada anak dan mereka mau mendengarkan kadang menjadi tantangan tersendiri bagi orangtua. Sering dijumpai saat kita berbicara justru anak tidak mendengarkan dan tidak merespon. Ini bukan terutama kewajiban anak harus mendengarkan setiap perkataan orangtua. Bukan tentang apa yang disampaikan orangtua harus didengar anak. Bukan pula tentang memaksa anak agar selalu mendengarkan setiap pembicaraan orangtua.
Anak-anak memiliki banyak hal yang dipikirkan. Menarik minat mereka di tengah banyak hal yang dipikirkannya memerlukan teknik berkomunikasi secara efektif. Selain itu, terampil menjadi pendengar yang baik perlu diajarkan sejak dini. Kelak ketika dewasa mereka memiliki keterampilan mendengarkan yang baik. Bukankah tidak sedikit orang dewasa yang rajin menyita perhatian orang lain tanpa diimbangi keterampilan mendengarkan?  
Sahabat Ummi, semoga langkah berikut ini memudahkan kita menarik minat anak mendengarkan pembicaraan kita.
1. Berbicaralah ketika kita sudah menarik minat perhatiannya
agaimana cara merebut perhatian anak? Kita tidak bisa memberi perintah dengan berteriak dari ruang sebelah. Atau menyuruh anak sarapan sementara kita berbicara kepadanya sambil suntuk memainkan gadget. Cara seperti itu tidak efektif. Pembicaraan kita akan menjadi suara yang berlalu begitu saja.
Letakkan gadget. Berjalanlah mendekati anak. Sejajarkan posisi komunikasi kita dengannya. Bila anak posisinya duduk, kita duduk di sampingnya. Lalu jalinlah koneksi. Menyentuh lengannya dengan lembut, atau bertanya, “Wah lagi asik main apa ini?”, – merupakan cara menjalin koneksi. Kita tunggu beberapa saat sampai anak menoleh dan menatap mata kita. Kemudian berbicaralah padanya dengan santun. “Ayo, kita sarapan dulu.”
2. Jangan mengulang perintah yang sama
Bila ajakan, perintah, pertanyaan belum direspon anak, kita tidak perlu mengulangnya sampai beberapa kali. Selain komunikasinya tidak efektif, hal ini disebabkan kita belum mendapat perhatian dari anak. Kita perlu kembali menempuh langkah pertama di atas.
3. Menggunakan kalimat efektif
Kalimat efektif memudahkan pendengar atau pembaca memahami isi pesannya. Efektif memilih diksi, efektif merangkai kalimat, efektif intonasi nadanya. Saat kita sudah merebut perhatiannya, memberi perintah atau bertanya pada anak tidak perlu menggunakan kalimat-kalimat panjang. Semakin panjang dan berbelit-belit akan menurunkan minat anak untuk mendengarkannya.
Singkat dan jelas. Ini keterampilan berkomunikasi yang patut dilatih di tengah kebiasaan kita yang cerewet dan gemar mengulang-ulang satu perintah. Bila cukup dengan kalimat: “Ayo kita shalat,” tak perlu kita berceramah panjang lebar tentang shalat.
4.  Melihat dari sudut pandang anak
Untuk menjalin komunikasi efektif dengan anak diperlukan kepiawaian memasuki dunia anak dan melihatnya dari sudut pandang mereka. Kita yang sedang sibuk beraktivitas rasanya enggan juga diminta untuk tiba-tiba menghentikannya. Anak pun demikian: mereka memiliki dunia sendiri yang kadang terlewat dari pertimbangan sikap berpikir orangtua.
“Asik ya bermain bongkar pasang. Sekarang kita shalat dulu yuk!” atau kita menggunakan simulasi ajakan yang lain. Prinsipnya melihat dari sudut pandang anak untuk mengempati perasaannya.
5. Bekerja sama dengan anak
Resistensi menerima perintah sudah menjadi naluri setiap orang. Tidak ada anak yang suka diperintah. Alih-alih memberi perintah dengan bahasa yang vulgar, kita bisa mencoba dengan teknik yang lebih manusiawi. Ajaklah anak bekerja sama menentukan pilihan. “Waktunya mandi, sayang. Sekarang atau lima menit lagi. Tidak pakai rewel ya.” Ketika lima menit sudah lewat, ajaklah anak mandi.
Ini memang tidak mudah. Saya sering terlibat tawar menawar. Anak menawar sepuluh menit. Saya tawar tujuh menit untuk menghentikan permainannya. Deal. Tidak terasa kita sudah mengempati anak. Kehangatan bercengkerama tetap terjaga.
6. Mengendalikan marah
Jangan memberi perintah atau nasehat ketika kita sedang marah. Ini sama sekali tidak efisien. Kondisi marah menyebabkan kita sulit mengendalikan pembicaraan. Komunikasi menjadi tidak efektif. Anak pun dicekam rasa takut. Ia akan menghindar dari semua perkataan kita.
Tetap tenang. Tarik nafas. Memastikan emosi kita sudah tenang terlebih dahulu, baru kita berbicara pada anak.
7. Menjadi pendengar yang baik bagi anak
Langkah ketujuh ini sepenuhnya bergantung pada sikap kita. Menuntut anak mau mendengarkan, kita awali dengan memberi contoh bagaimana menjadi pendengar yang baik. Komunikasi yang efektif dijalin dengan prinsip keseimbangan. Kita dan anak menjadi komunikator yang baik, yang salah satu unsurnya adalah keterampilan mendengarkan.
Semoga tujuh langkah ini menginspirasi kita memberikan pola asuh yang santun, manusiawi, dan memanusiakan anak.
(ummi-online/muslimahzone.com)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RIBUAN Orang Telah TERINFEKSI di Benua AMERIKA, INILAH 3 Bahaya Virus ZIKA

Virus Zika mulai mengancam dunia. Pemerintah Brasil telah mengumumkan agar para ibu tidak hamil. Sebab, virus ini diduga menyebabkan mikrosefali (cacat pertumbuhan otak) pada bayi baru lahir. Saat ini virus telah menginfeksi ribuan orang di Benua Amerika. Kepala Departemen Ilmu Obstetri, Ginekologi dan Reproduksi dari Hackensack University Medical Center, New Jersey, Dr. Manny Alvarez, mengatakan ada tiga hal penting yang Anda harus ketahui mengenai virus Zika. Berikut ulasannya, seperti dikutip Foxnews, Jumat (29/1/2016): 1. Zika dapat menyebabkan cacat bawaan pada anak  Terlepas dari apakah penyakit yang dibawa nyamuk ini sangat mirip dengan demam kuning, virus West Nile dan chikungunya, Zika memiliki risiko yang lebih besar karena virus ini berkaitan dengan kasus mikrosefali yang mengancam bayi-bayi di Brasil. "Virus dapat mempengaruhi kehamilan. Secara teoritis, virus dapat menyebabkan keguguran atau mempengaruhi pertumbuhan otak dalam janin," katanya. Dia mengatakan perm...

Muslimah Bercadar Dilarang Ambil Uang di ATM BRI

Bank Rakyat Indonesia (BRI) memiliki peraturan bahwa Muslimah yang mengenakan cadar dilarang mengambil uang di ATM BRI, informasi ini terungkap dari sebuah video yang diunggah oleh admin Page Facebook Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia, jum’at (22/1/2016). Keterangan dalam video tersebut tertulis : “Satpam BRI Cab. GENENG – Ngawi Jawa Timur melarang wanita bercadar mengambil uang ATM di BRI..Apakah ada peraturannya seperti ini?“ Dalam Video berdurasi 29 detik tersebut nampak terlihat petugas Satuan Pengamanan (SATPAM) BRI Cabang Geneng Ngawi Jawa Timur mengaku mendapat perintah untuk melarang wanita bercadar mengambil uang di ATM BRI. “Ada perintah ya Pa, bahwa orang memakai cadar ngga boleh ngambil uang di ATM” tanya pria dalam video tersebut yang kemudian dibenarkan oleh SATPAM. Hingga berita ini ditayangkan belum ada keterangan resmi dari pihak BRI akan benar ada peraturan resmi yang melarang muslimah bercadar dilarang mengambil uang di ATM. Bagi yang ingin menonton video tersebut...

Hari MINGGU Hari LIBUR, INILAH Asal Usulnya

Trending Topics - Jika kita menanyakan hari apa yang paling ditunggu ke teman kita, besar kemungkinan dia akan menjawab hari Minggu. Hari Minggu merupakan hari beristirahat dari segala aktivitas yang menyibukkan. Hari Minggu adalah hari libur yang ditunggu-tunggu oleh hampir setiap orang baik anak sekolah maupun orang kantoran. Lalu sebenarnya dari mana sih asal usul mengapa Minggu bisa libur? Mengapa tanggal merah harus terletak pada hari Minggu tidak hari lainnya? Inilah asal usul mengapa hari Minggu bisa libur seperti yang dilansir brilio.net dari history.com, Kamis (23/4). Awal mula sejarah ditetapkannya hari Minggu sebagai hari libur adalah berasal dari tradisi Romawi kuno di Italia. Menurut bangsa Romawi, hari yang mengawali setiap pekan adalah Minggu dan bukan hari Senin. Hal ini berlaku di hampir seluruh negara di dunia, kecuali beberapa negara muslim seperti Arab yang menerapkan Jumat sebagai hari liburnya.  Dahulu orang Romawi kuno melakukan kegiatan beribadah pada hari ...